Diskusi ini ingin menyampaikan hal-hal yang sebenarnya dilakukan oleh Forci dalam small scale forestry (hutan skala rakyat). Main streaming menjadi salah satu fokus Forci karena ada keperihatinan  yang dirasakan oleh teman-teman di Forci, oleh para peneliti, jejaringnya yaitu praktisi-praktisi dan LSM.

Praktek yang saat ekspoitatif sebagai wujud kehutanan Indonesia di pertengahan tahun 1990 mengalami kehancuran. Beberapa istilah hutan yang ada didaerah menunjukan istilah yang mengindikasikan praktek skala rakyat ada sebelum berkembang. Damar mata kucing di Lampung masih ada dan diakui, dan secara internasionalnya ada tapak penelitian dari lembaga-lembaga dan banyak lagi yang bisa dilihat meskipun masih sedikit dibanding total hutan

Ada pengetahuan di tingkat lokal yang mampu tapi terpinggirkan oleh policy pemerintah dan mungkin karena mengguritanya kekuatan kapital besar. Dari keprihatinan ini kami mencoba melihat sebuah potret yang tidak berpihak. Negara ini punya konstitusi yang menjadi landasan, contohnya pasal 33 UUD 1945. Sampai hari ini ada policy nasional yang melakukan ketidakberpihakan antara pengelolaan skala besar dan skala kecil. Pengelolaan hutan skala besar menjadi lebih memonopoli. Proporsi ini sampai saat ini terjadi dalam kebijakan sehingga sangat tidak berpihak kepada rakyat. Sebanyak 48,8 juta jiwa masyarakat luar jawa bergantung dengan hutan, terdapat sekian ribu hektar desa yang berada di sekitar hutan. Informasi sementara dari skala besar, hutan tersebut hanya dimonopoli oleh 8 orang.

Rujukan legal pelaksanaan melakukan perijinannya sangat bias oleh kapital besar. Sebanyak 26 meja tingkat daerah dan 26 meja di tingkat pusat harus dilalui untuk perizinan. Mekanisme yang sama juga diwajibkan bagi pengelola hutan skala kecil. Perlu ada yang dilakukan agar hutan skala rakyat mempunyai tempat baik itu tingkat akademisi, praktisi, birokrasi. Sampai saat ini Forci belum punya frame sistematis bagaimana melakukan mean streaming. Hutan rakyat tidak terbatas kawasan dilahan milik, komunal maupun negara. Perdepatan tentang definisi sangat banyak perdepatan, tapi Forci melakukan pendekatan bukan perdebatan.

Sebelum masuk kegiatan yang dilakukan Forci sebagi upaya mean streaming, berikut ini adalah pendekatan Forci. Forci adalah jembatan mengenai informasi di kampus dengan dunia mahasiswa. Ini sangat berbeda yang dilakukan dengan non akademik yang meletakkan di basis kepentingan tidak beda dengan basis LSM dan birokrasi. Ada dua fokus scientific yaitu advokasi dan advising, advokasi secara terbuka dan advising secara tertutup. Forci tidak bisa melakukan aktifisme tapi Forci melakukan pendekatan untuk tetap bisa melakukannya.

Forci melihat hutan rakyat bukan hanya masalah kayu tetapi manfaat ekologi, sosial dan ekonomi.  Di awal berjalannnya Forci banyak dilakukan kajian di bidang konservasi. Kajian ini mencari pendekatan resolusi konflik di taman nasional. Taman nasional menjadi domain pusat dan tidak ada hak utnuk masyarakat sama sekali. Kami mencoba mengungkap karakteristik yang ada berbasiskan masyarakat. Ini upaya yang dilakukan Forci bagaimana hutan skala rakyat berada di kawasan konservasi.

Kegiatan berikutnya di Jawa yang khususnya di lahan yang pengelolaannya di serahkan ke Perum Perhutani. Ada dua kegiatan yang pertama di bidang pendampingan dan fasilitasi aksi sertifikasi PHL di Perum Perhutani unit II. Sistem pengelolaan mengunakan PHBM . Dengan ini kami punya akses langsung kepada masyarakat. Paham small scale forestry dan PHBM di perkenalkan kepada masyarakat.  Yang kedua adalah redesain perhutani unit II. Bagaimana format ulang di perusahaan. Selama ini di perhutani menjadi hal yang tabu.

Kegiatan selanjutnya menenai tata ruang. Yang kami lakukan adalah kajian lingkungan hidup strategis di Papua. Kami mencoba melakukan pendekatan kekhasan otonomi khusus dan hak ulayat. Ini sebagai basis untuk memberikan paham kepada pemerintah Kota Waringin untuk melakukan lobi kepada pemerintah pusat. Kemudian riset aksi pengembangan model hutan rakyat di Cimapag Barat Cigudeg.

Similar Posts