INDONESIA DRAGONFLY SOCIETY

Indonesian Dragonfly Society (IDS) terbentuk berawal karena hobi fotografi yang dimiliki oleh Mas Sigit, fotografi tersebut lebih terfokus pada foto capung. Dari hal itulah timbul keinginan mengenal capung, kebiasaannya, pola hidup, serta seluk beluk mengenai capung (Odonata). Capung sangat menarik bagi Mas Sigit yang memiliki latar belakang alumni sosiologi dan bekerja sebagai guru SMA di Malang. Mas Sigit menemukan “kegilaan” terhadap capung hingga berani memutuskan mundur dari profesinya dan mendalami sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakangnya.

Awal terbentuknya IDS banyak mengalami kesulitan dalam banyak hal. Indonesia sangat sedikit mengemukakan tentang capung. Sampai saat ini baru ada satu buku saku mengenai capung yang diterbitkan oleh LIPI. Informasi mengenai capung banyak dicari di benerapa universitas di Indonesia, dan LIPI tetapi tidak membuahkan hasil yang maksimal. Info akhirnya juga dicari hingga keluar negeri untuk mendapatkan korespondensi.

Sebanyak 60% kekayaan capung dunia ada di daerah Indomalay. Indonesia sebagai negara terbesar di Indomalay memiliki kekayaan capung yang lebih banyak dari daerah lain. IDS berharap dapat memperoleh info mengenai kenekaragaman capung, dan selama dua tahun ini difokuskan di daerah ????, Malang. Capung sangat jarang dijumpai saat ini karena adanya perubahan lanskap dan juga keadaan alam di ????. bahkan diperkirakan ada dua spesies yang punah di ????.

Capung sering dipandang sebagai hewan kecil saja, padahal capung memiliki peran luar biasa di ekologi. Nimfa capung dapat menjadi indikator perairan yang baik dan sehat karena capung tidak akan meletakkan nimfanya di perairan yang sudah tercemar. Capung memiliki fungsi predator karena capung dapat menjadi pemangsa hama pertanian. Dunia mengalami kritis capung mulai dari tahun 1900-an. Sangat disayangkan bahwa capung berkurang drastis populasinya dikarenakan tingkat polusi dan pencemaran di Indonesia yang sangat tinggi.

Masyarakat luas banyak yang tidak mengetahui peran ekologi capung yang sebenarnya, sehingga capung dipandang sebelah mata. Mitologi dan dongeng di Indonesia mengenai capung juga sangatlah kering. Di Jawa capung dianggap dapat mengobati ngompol, di Nias untuk kekuatan, sedangkan di Buleleng capung dianggap dapat menurunkan panas. Inilah yang membuat capung tidak menarik walaupun capung berada di sekitar manusia. Masyarakat dan budaya negeri lain banyak yang menganggap capung adalah hewan yang sangat penting, hal ini yang membuat capung “dihargai” di negeri lain.

IDS berusaha menggugah minat masyarakat mengenai capung salah satunya dengan pembuatan cerita bergambar agar sejak dini dapat merasakan ketertarikan terhadap capung. Kesalahan pendidikan dan kurangnya informasi membuat sedikit sekali pengetahuan mengenai manfaat capung. Manusia gampang menganggap sesuatu sepele, melupakan bahwa organ di kehidupan memiliki peran dan fungsi masing-masing.

Indonesian Dragonfly Society saat ini banyak berfokus pada data dan penelitian, edukasi dan kampanye. Data tentang capung yang tersedia di Indonesia sangatlah lama, sehingga IDS banyak bergelut juga mengenai data tersebut. Mas Sigit bahkan berani melakukan gebrakan dengan cara berani member nama Indonesia bagi spesies capung. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat dapat lebih mudah mengerti serta diharapkan juga dapat “memancing” reaksi dari para ahli yang lain. Untuk kedepannya IDS berencana melakukan recording capung yang ada di daerah-daerah Indonesia.

Comments are closed.