Kembali ke jalan lurus

KEMBALI KEJALAN LURUS

Kritik Penggunaan Ilmu dan Praktek Kehutanan Indonesia

Editor            : Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS

Penulis          : Azis Khan, Bramasto Nugroho, Didik Suharjito

Dudung Darusman, Ervizal A M Zuhud,

Hardjanto, Hariadi Kartodihardjo, Hendrayanto,

Mohamad Shohibuddin, Mustofa A Sardjono,

Myrna A Safitri, San Afri Awang, Sofyan P W,

Soeryo Adi W, Sudarsono Soedomo, Sulistyo E.

Penerbit        : FORCI Development bekerjasama dengan Tanah Air Beta Yogyakarta

Pada saat bangsa Indonesia menempuh pembangunan untuk meningkatkan perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, selama 40 tahun terakhir, pada masa itulah Indonesia kehilangan lebih dari separoh hutan alamnya. Pada 20 tahu n pertama yaitu periode 1970-1990 terjadi era eksploitasi kayu dari hutan alam produksi, pembukaan wilayah, dan pengembangan transmigrasi. Pada era ini, kerusakan hutan seringkali dialamatkan pada perkembangan ekonomi yang eksploitatif itu serta perkembangan penduduk yang menyertainya. Periode 20 tahun kedua, yaitu tahun 1990-2010, isu kerusakan hutan bertambah dengan mulainya pelaksanaan kebijakan pembangunan hutan tanaman serta peningkatan kebutuhan lahan hutan bagi pembangunan pertanian dalam arti luas, pertambangan, serta insfrastruktur ekonomi dan pemukiman. Pada periode ini, pengembangan wilayah bagi pengembangan ekonomi disertai banyak konflik penggunaan hutan dan lahan hampir diseluruh wilayah Indonesia.

Dari peristiwa selama 40 tahun itu, berbagai kebijakan pembangunan kehutanan berganti, termasuk pergantian undang-undang kehutanan, namun pertanyaannya adalah, apakah pandangan terhadap masalah kehutanan dan kerangka pikir yang digunakan untuk menentukan masalah serta kebijakan kehutanan itu berubah. Demikian pula ketika berbagai faktor penyebab kerusakan hutan terus berkembangdan bahkan meluas dan seiring dengan itu, ilmu pengetahuan telah pula berkembang menyertainya, apakah perkembangan ilmu pengetahuan itu digunakan sebagaimana mestinya. Bagaimana pula kesadaran para akademisi, penentu kebijakan, serta para penggiat gerakan-gerakan sosial kehutanan menyadari adanya hegemono ilmu pengetahuan itu dan berpengaruh terhadap tata kuasa serta keadilan pemanfaatan sumberdaya hutan.  Beberapa Pertanyaan itu menjadi dasar pemikiran disusunnya buku ini. Diasumsikan bahwa perkembangan persoalan kehutanan tidak diikuti oleh pengembangan cara pikir dan penggunaan ilmu pengetahuan yang lebih luas maka perbaikan tindakan nyata dalam pembangunan kehutanan tidak akan terjadi.

Disajikan berbagai teori dan pendekatan ekonomi, institusi, politik, hukum, ekologi politik maupun antropologi untuk memahami persoalan kehutanan sebagai pengantar pembentukan kerangka pemikiran yang lebih komprehensif saat ini maupun dimasa depan Buku yang ditulis oleh akademisi-akademisi kritis ini dapat menjadi rujukan untuk memperluas pemikiran tersebut baik bagi akademisi, peneliti, maupun para ahli. Buku ini tersedia di Gramedia diseluruh Indonesia dan di FORCI Development Gedung Dept. Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

Similar Posts

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *