Bogor, 29 November 2012
 
1Hasil Fokus Diskusi FORCI Development2, Kamis 29 November 2012
2Center For Forestry Organization Capacity and Institution Development Faculty of Forestry-Bogor Agricultural University

Mengikuti dinamika kehutanan yang terus berkembang, sebuah fakta menunjukkan bahwa pengelolaan hutan skala kecil yang dilakukan oleh masyarakat di Jawa ternyata jauh lebih baik dibanding pengelolaan hutan skala besar, dalam hal ini dilakukan oleh perhutani di jawa. Ini ditunjukkan dengan data luasan Hutan rakyat di Jawa tahun 2010 sebesar 2,74 juta Ha (BPKH XI 2010) dan Perhutani di Jawa tahun 2011 sebesar 2,4 juta Ha (Perhutani 2011). Hal ini tentu mematahkan mitos yang pernah berkembang bahwasanya, “apakah masyarakat bisa mengelola hutan dengan baik?”. Tentu dengan hadirrya fakta tersebut setidaknya memberikan jawaban bahwa masyarakat itu bisa mengelola hutan dengan baik. Dari berbagai aspek yang kemudian ditinjau untuk mengetahui apasajakah yang menjadi modal masyarakat dalam mengelola hutan sehingga menghasilkan hasil yang signifikan tersebut kemudian didapatkan salah satunya adalah modal sosial. Modal sosial ini dipandang menjadi salah satu modal yang dimiliki masyarakat sehingga masyarakat dapat melakukan pengelolaan hutan dengan hasil yang baik dan signifikan seperti yang terjadi sekarang ini. Ketika modal sosial kemudian dijadikan bahasan sebagai salah satu modal masyarakat dalam mengelola hutan, tentu perlu diketahui terlebih dahulu mengenai apa modal sosial itu. Pendefinisian ini yang nantinya digunakan sebagai dasar menentukan seperti apakah modal sosial yang dimaksud sebagai modal masyarakat dalam mengelola hutan. Dari hasil diskusi bersama dan mempertimbangkan pandangan para ahli serta realitas yang terjadi, kemudian diperoleh definisi bersama mengenai modal sosial. Definisi modal sosial adalah suatu interaksi antarindividu yang kemudian membentuk suatu komunitas yang didalamnya terdapat nilai-nilai bersama sehingga terbentuk kepercayaan dan memiliki tujuan bersama. Dari definisi ini, setidaknya ada 5 hal yang harus ada sehingga itu disebut modal sosial yaitu (1) interaksi, (2) komunitas, (3) nilai, (4) Kepercayaan, dan (5) tujuan bersama. Keempat hal tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan membangun. Ketika semua hal itu sudah terbentuk, maka akan menjadi sebuah modal sosial yang dimiliki oleh komunitas dalam melakukan sesuatu. Namun perlu dipahami pula bahwa masing-masing hal diatas juga perlu di tinjau kembali satu per satu. Interaksi itu seperti apa, komunitas yang mana, nilai apa, kepercayaan yang seperti apa, dan tujuan bersama yang seperti apa pula. Ini perlu diperhatikan karena banyak faktor diluar kekuatan sosial yang dapat membentuk adanya hal-hal tersebut seperti kekuatan financial maupun kekuatan otoritas pihak-pihak yang kemudian dapat membangkitkan kekuatan massa melalui kekuasaan maupun posisi yang dimilikinya sehingga kepercayaan dan tujuan yang diangkat kemudian adalah suatu paksaan. Nah kemudian seperti apakah modal sosial yang dimaksud sehingga pengelolaan hutan di Jawa ini dapat berkembang dengan baik. Jika mengacu pada definisi yang ada kemudian dapat diperoleh titik penting bahwa kejelasan hak akses maupun aset, kemudian potensi pasar serta kebutuhan akan hutan, oleh masyarakat di Jawa telah memacu masyarakat untuk menanam. Budaya interaksi yang ada dalam masyarakat Jawa tentu banyak membentuk komunitas-komunitas yang kemudian tertanam nilai-nilai didalamnya yang kemudian di anut bersama. Karena proses interaksi yang terbangun serta kesamaan nilai yang dianut membuat individu-individu dalam komunitas tersebut saling memiliki trust atau kepercayaan sehingga tujuan-tujuan bersama dapat dilakukan. Masuk dalam realitas yang terjadi bahwa masyarakat yang memang sejak dulu berjiwa bercocok tanam, kemudian adanya potensi dibidang kehutanan, masyarakat mulai menanam pohon. Karena adanya proses interaksi sehingga kegiatan menanam pohon yang dilakukan ini menular ke orang-orang yang berinteraksi beserta berbagai cara yang dilakukan. Hal ini tentu terjadi karena sudah terjadi kepercayaan antar orang yang berinteraksi dalam komunitas tersebut sehingga tujuan mereka untuk menanam, menjaga, serta memperoleh hasil dari yang mereka tanam dapat tercapai. Disitulah modal sosial bekerja disamping modal-modal lain yang ikut mengembangkan berhasilnya smal scale forestry di Jawa seperti modal financial, modal sumberdaya, modal teknologi, maupun yang lainnya. Hal ini juga menandakan bahwasannya memandang modal sosial sebagai modal berhasilnya small scale forestry secara linier namun harus secara holistik yaitu dipandang secara menyeluruh dari berbagai aspek dan kemungkinan yang ada. Dalam berbagai kegiatan, program, maupun kebijakan yang akan di implementasikan kepada sebuah komunitas masyarakat seharusnya modal sosial ini menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Identifikasi terhadap modal sosial yang ada dalam masyarakat sangat mempengaruhi keberhasilan terhadap kegiatan, program, maupun kebijakan yang akan dilakukan tersebut. Terkadang banyak kegiatan, program, maupun kebijakan yang akan di implementasikan dalam suatu komunitas masyarakat kurang memperhatikan modal sosial yang ada dalam komunitas tersebut dan justru lebih memakai pandangan dari pembuatnya. Hal itu tentu sangat berdampak pada tatanan yang telah ada dan dianut oleh masyarakat dan dapat merusak modal sosial yang telah ada. Selain membuat banyak program, kegiatan dan kebijakan terbengkalai dan gagal dilaksanakan, juga terkadang hal-hal semacam itu dapat merusak nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat, ketergantungan masyarakat, ketidakmandirian masyarakat, serta hilangnya trust dalam komunitas tersebut. Oleh karena itu, proses identifikasi terhadap modal sosial yang ada dalam masyarakat menjadi hal fundamental untuk diperhatikan apabila akan masuk dalam komunitas masyarakat.

Leave a Reply

COMMENTS